Pemasukan barang diawali dengan kedatangan sarana pengangkut ke pelabuhan atau bandar udara yang ditetapkan. Pada tahap ini, pengangkut wajib memberitahukan kedatangan serta menyerahkan dokumen pengangkutan kepada Bea dan Cukai sebagai dasar pengawasan awal.
Setelah barang dibongkar, barang ditempatkan di tempat penimbunan sementara di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Selama berada di tempat ini, barang belum dapat dikeluarkan sebelum importir menyelesaikan kewajiban kepabeanan dan menyampaikan pemberitahuan pabean impor.
Importir atau kuasanya kemudian menyampaikan pemberitahuan impor kepada Bea dan Cukai melalui sistem kepabeanan. Pemberitahuan ini memuat data mengenai jenis barang, jumlah, nilai pabean, klasifikasi, asal barang, serta pemenuhan ketentuan larangan dan pembatasan.
Berdasarkan pemberitahuan tersebut, Bea dan Cukai melakukan penelitian dokumen dan penilaian risiko. Hasil penilaian ini menentukan jalur pelayanan kepabeanan, yang berpengaruh pada ada atau tidaknya pemeriksaan fisik barang.
Apabila kewajiban pabean telah dipenuhi dan tidak terdapat pelanggaran, Bea dan Cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang. Dengan persetujuan ini, barang secara sah dapat dikeluarkan dari pengawasan kepabeanan dan digunakan oleh importir.
Secara keseluruhan, mekanisme pemasukan barang ke daerah pabean mencerminkan sistem pengawasan berlapis yang mengintegrasikan aspek pelayanan, pengamanan, dan kepatuhan hukum dalam kegiatan impor.